Copot Pimpinan PT MSM! Tonaas Wangko Ishak Tambani Cs: Nasib Rakyat Bukan Mainan Juent Mongkaren, Juni 9, 2026Juni 10, 2026 Newslestari.com – Manado, suara keras masyarakat lingkar tambang menggema dalam Rapat Gabungan yang mempertemukan tokoh adat, LSM, Ormas Paesaan, dan awak media (08-06-2026). Dipimpin langsung Tonaas Wangko Ishak Tambani di kediamannya, pertemuan ini menegaskan satu hal: kesejahteraan dan keselamatan warga tak boleh dikorbankan demi operasional PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN). Titik api utama yang menjadi sorotan adalah rumah retak terputusnya Jalan Trans Minahasa Utara–Bitung di Kelurahan Tinerungan Pinasungkukan. Ruas jalan yang menjadi urat nadi perekonomian itu terletak persis berdekatan dengan area penambangan utama perusahaan, dan kerusakan yang berulang dinilai bukan kebetulan semata. “Dalam waktu dekat kami akan turun langsung ke lokasi untuk melihat fakta di lapangan,” tegas Tonaas Ishak, menandakan komitmen untuk tak hanya berhenti pada ucapan. Beragam Keluhan yang Sudah Mengakar Bertahun-tahun Dari Desa Kokole Dua Minahasa Utara, Adri menyampaikan ketidakpuasan mendasar: perusahaan dinilai menginjak nilai-nilai adat dengan melibatkan pihak luar sebagai pemimpin upacara, padahal wilayah ini memiliki tata kelola adat yang jelas. Tak hanya itu, getaran hebat akibat pengeboman terus menerus membuat para lansia hidup dalam ketakutan sehari-hari. Warga juga mempertanyakan janji penyerapan tenaga kerja lokal dan program CSR pendidikan yang nyaris tak terasa manfaatnya. Keluhan senada datang dari pemuda Kokole Satu, Ferdinan. Ia menegaskan: ritual adat yang diselenggarakan perusahaan terasa kosong maknanya karena tak melibatkan tokoh dan warga asli. “Ini bukan soal seremonial semata, tapi penghormatan terhadap hak milik budaya dan tanah leluhur,” ucapnya tegas. Di Kampung Kijang, Desa Likupang Satu, dampak 15 tahun eksplorasi terasa sampai ke urusan paling dasar: air bersih. Sungai Marawuwung yang menjadi sumber kehidupan kini keruh, diduga tertutup alirannya, hingga memaksa warga berjalan jauh sekadar mendapatkan air minum. Tak hanya itu, puluhan ternak dilaporkan mati diduga akibat tercemarnya lingkungan. “Anak-anak muda tak lagi punya harapan masa depan di sini. Tanah pun diperjualbelikan dengan cara yang meresahkan,” ungkap Rommi Limbah tambang yang dianggap tak memenuhi standar. Perwakilan Brigade Nusantara pun bersikap tegas: “Kami siap melaporkan perusahaan terkait pencemaran dan ketidakadilan tenaga kerja. Aspirasi warga yang panik akibat pengeboman harus didengar jangan sampai perusahaan bertindak sewenang-wenang.” Dari Desa Maen dan Winuri, kekecewaan tak kalah tajam: janji bantuan ternak sapi dan babi yang dijanjikan bertahun silam hingga kini tak kunjung nyata. Tuntutan Tegas: Tutup Sementara Hingga Ada Kepastian Juent Myhard Ketua Forum Peduli Lingkungan Sulawesi Utara melontarkan permintaan paling keras: jika dugaan ini terbukti kami meminta penutupan sementara seluruh operasi PT MSM TTN dan meminta pimpinan PT MSM TTN di copot dari jabatan. Tuntutan ini bukan tanpa dasar, melainkan berlandaskan fakta dan aturan hukum yang jelas: 1. Kerusakan parah tak terperbaiki: Jalan longsor berulang, dugaan penutupan sungai, dan pencemaran yang melampaui batas aman baku mutu lingkungan. 2. Kelalaian kewajiban: Perusahaan dianggap tak sungguh-sungguh menjalankan Rencana Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan, padahal risiko bahaya sudah terdeteksi sejak lama. 3. Mengancam nyawa: Aktivitas pengeboman merusak struktur tanah dan bangunan, menciptakan ketakutan kolektif di kalangan warga. 4. Mengabaikan hak: Sumber kehidupan dirusak tanpa ganti rugi yang layak, dan konflik terus berlarut karena perusahaan enggan berkomunikasi secara jujur. Ancaman tegas juga disampaikan Ketua Benteng Pep Kembuan yang mempertanyakan transparansi 8 bidang CSR perusahaan. Khususnya untuk bidang budaya yang tak pernah terdengar realisasinya: “Ini harga mati. Jika terbukti CSR budaya tak pernah disalurkan, kami siap memblokade jalur operasional perusahaan.” Pertemuan ini pun mendapat dukungan dari kalangan pers. Perwakilan wartawan menegaskan: “Sebagai jurnalis, kami siap menjadi corong aspirasi ini, agar fakta sampai ke telinga publik luas tanpa rekayasa.” Seluruh keluhan dan tuntutan ini akan segera disusun dalam dokumen resmi untuk di arsipkan. Pesannya tegas: Tonaas Wangko Ishak Tambani pembangunan tak boleh bertumpu pada penderitaan rakyat. Jika tak ada perubahan nyata, masyarakat tak akan ragu mengambil langkah yang lebih besar demi mempertahankan hak hidupnya. (Rinte Klabat) Agenda Minahasa utara