Newslestari.com – Sulawesi Utara memiliki banyak pahlawan olahraga yang telah mengharumkan nama daerah dan bangsa. Salah satunya adalah Melky “Macis” Lelemboto, petinju berbakat yang pernah mengibarkan merah putih di berbagai kejuaraan nasional maupun internasional.
Namun, di balik kejayaan yang pernah diraihnya, tersimpan kisah perjuangan yang belum tuntas—sebuah perjalanan yang seharusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan masyarakat.

Melky mengawali karier tinjunya sejak usia belia, naik ke atas ring pertama kali saat masih duduk di kelas enam SD. Prestasinya gemilang: Juara Nasional Junior 1997, Piala Gubernur DKI 1997, Juara Piala Gubernur Kalteng, Kaunang Cup, Panther Cup, serta peraih perunggu PON 2000.
Kehebatannya berlanjut dengan medali emas STE 2009, Juara King’s Cup 2002, perunggu Kejuaraan Asia, dan perak PON 2004.
Bahkan, ia pernah menumbangkan Daud Yordan sebanyak tiga kali di Medan, Kalimantan, dan Jakarta, serta Jufry Masihor, juara PON dan SEA Games, sebanyak dua kali.
Namun, kehidupan setelah tinju tidak semulus langkahnya di atas ring. Janji pemerintah untuk menjadikannya PNS sejak 1994 tak pernah terealisasi.
Berkasnya tak pernah diproses, harapan yang sempat membara kini padam dalam ketidakpastian.
“Mereka menjanjikan posisi PNS kepada saya, tapi sampai sekarang berkas saya tidak pernah diurus. Saya frustrasi,” ungkapnya dengan nada penuh kekecewaan.
Melky pun mencoba bertahan dengan berbagai cara. Ia pernah melamar sebagai satpam di Unsrat, namun tak kunjung mendapat panggilan.
Kini, kesehariannya dihabiskan sebagai pengawas dalam usaha yang dipimpin oleh Tonaas Wangko Ishak Tambani, seorang tokoh disegani yang melihat potensi besar dalam diri Melky, bukan hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai pribadi yang peduli terhadap sesama.
Mengenal lebih jauh sosok Melky, Tonaas Wangko Ishak Tambani menegaskan bahwa Melky adalah figur yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan dan rekan-rekannya.
“Melky adalah sosok yang baik dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia tidak hanya petinju berbakat, tetapi juga pribadi yang peduli dan bergaul dengan baik.
Sosok seperti ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih, bukan malah diabaikan,” tutur Ishak.
Kini, di tengah perjuangan hidupnya, Melky menyatakan dukungan dan mengidolakan Yulius Selvanus Komaling (YSK), sosok pemimpin saat ini yang diyakininya mampu membawa perubahan besar bagi Sulawesi Utara.
Dengan semangat seorang petarung sejati, ia pun menjadi relawan di garda terdepan untuk kemenangan YSK-VICTORY di Pilkada Sulut.
Melky tak meminta banyak. Hanya secercah perhatian dan pengakuan atas pengorbanannya di dunia olahraga.
“Minimal wali kota mau melihat kami,” harapnya sederhana.
Lanjut Ishak, Sebagai bangsa yang besar, kita tak boleh melupakan para pejuang di bidang olahraga.
Mereka bukan hanya sekadar atlet, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda. Kisah Melky adalah panggilan bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih peduli dan menghargai para pahlawan olahraga yang telah mengukir sejarah dengan keringat dan pengorbanan.
(Rinte Klabat)







